KABARMBOIS.ID, MALANG – Mural ikonik bertuliskan “Malang The Glory Land” di Jalan Arif Rahman Hakim, Kecamatan Klojen, Kota Malang, mendadak berubah. Karya yang telah menghiasi dinding tersebut sejak 2016 ditutup menggunakan cat biru dan kemudian digantikan tulisan “Malang Menyala Bersama”.
Perubahan mural tersebut kemudian memicu perhatian publik. Belakangan diketahui, tulisan baru itu dibuat oleh Malang Creative Fusion (MCF) untuk kebutuhan promosi Festival Mbois 11 Malang Menyala yang akan digelar di Stadion Gajayana.
Polemik tersebut turut mendapat perhatian dari Wakil Wali Kota Malang Ali Muthohirin. Ia menegaskan bahwa para pelaku industri kreatif di Kota Malang harus mengedepankan sikap saling menghargai terhadap karya yang telah ada.
Menurut Ali, kepentingan promosi sebuah kegiatan tidak seharusnya menjadi alasan untuk menghapus ataupun mengganti karya seni yang telah lebih dahulu menjadi bagian dari ruang publik.
Ali juga memberikan penegasan mengenai posisi Pemerintah Kota Malang dalam penyelenggaraan Festival Mbois 11. Ia menyebut kegiatan tersebut bukan merupakan agenda yang digagas Pemkot Malang.
Menurutnya, Pemkot Malang hanya memberikan fasilitasi terhadap pelaksanaan kegiatan yang digagas oleh kelompok anak muda dan pelaku kreatif tersebut.
“Kami garis bawahi, bahwa itu (Festival Mbois 11 yang digagas oleh MCF) bukan event Pemkot Malang, tetapi Pemkot cuma diminta fasilitasi agenda,” ujar Ali, Kamis (20/8/2026).
Ia mengaku menyayangkan cara promosi festival yang justru dilakukan dengan mengubah mural “Malang The Glory Land”. Menurutnya, langkah tersebut berpotensi menimbulkan persepsi bahwa kegiatan tersebut merupakan acara resmi Pemerintah Kota Malang.
“Saya takutnya, itu dianggap merupakan acara Pemkot. Ini adalah ide kelompok anak muda, kelompok kreatif tetapi kami sayangkan adalah cara untuk mempromosikan kok seperti itu (menghapus mural Malang The Glory Land),” jelasnya.
Ali kemudian mengingatkan para pelaku kreatif di Kota Malang agar tidak mengedepankan ego maupun merasa menjadi kelompok yang paling kreatif.
Menurutnya, ekosistem kreatif akan berkembang dengan baik apabila setiap pihak mampu menghormati karya dan kreativitas pihak lain.
Ia juga menekankan bahwa tidak ada pihak yang seharusnya bertindak arogan dengan menghapus atau mengganti karya yang telah ada tanpa mempertimbangkan pihak-pihak terkait.
“Jangan segelintir sekelompok orang merasa paling kreatif, terus kemudian tidak menghargai hasil kreativitas yang lain. Ini tidak boleh ada arogansi seperti ini. Saya kembali berpesan, saling menghargai karya masing-masing,” pungkas Ali.
Polemik mural tersebut menjadi perhatian karena “Malang The Glory Land” telah menjadi bagian dari identitas visual kawasan tersebut sejak 2016. Sementara tulisan “Malang Menyala Bersama” dibuat sebagai bagian dari kampanye Festival Mbois 11.
Pemkot Malang pun mendorong agar persoalan tersebut dapat disikapi dengan komunikasi dan saling menghargai, sehingga perkembangan kreativitas di Kota Malang tetap berjalan tanpa mengesampingkan karya dan identitas yang telah lebih dahulu hidup di tengah masyarakat. (red)
