KABARMBOIS.ID, MALANG – Polemik mengenai mural ikonik bertuliskan “Malang The Glory Land” di Jalan Arif Rahman Hakim, Kecamatan Klojen, Kota Malang, akhirnya mendapat respons dari Malang Creative Fusion (MCF). Organisasi yang menjadi inisiator Festival Mbois 11 Malang Menyala tersebut menyampaikan permintaan maaf setelah mural yang telah menghiasi kawasan itu sejak 2016 ditimpa tulisan promosi.
Mural yang dikenal sebagai salah satu karya seni visual di Kota Malang tersebut sebelumnya ditutup menggunakan cat biru. Di atasnya kemudian dibuat tulisan “Malang Menyala Bersama” sebagai bagian dari kebutuhan promosi Festival Mbois 11 yang digelar di Stadion Gajayana.
Perubahan tersebut kemudian memicu polemik di tengah masyarakat. Tulisan promosi itu akhirnya dihapus pada Kamis (20/8/2026).
Koordinator MCF sekaligus panitia Festival Mbois 11, Dadik Wahyu Chang, menyampaikan permintaan maaf melalui akun Instagram resmi @festivalmbois. Ia mengakui bahwa mural “Malang The Glory Land” memiliki nilai historis dan makna tersendiri bagi masyarakat Malang.
“Kami ingin menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya terkait tulisan ‘Malang The Glory Land’ yang sebelumnya sudah ada,” ujar Dadik dalam pernyataannya.
Dadik menegaskan, tidak ada maksud dari MCF untuk menghapus identitas maupun karya yang telah menjadi bagian dari ruang publik Kota Malang tersebut.
Ia juga mengakui bahwa keputusan tersebut dilakukan karena adanya ketidaktahuan mengenai nilai dan sejarah mural.
“Tidak ada sedikit pun niat dari kami untuk menghilangkan identitas, karya, ataupun semangat yang sudah dibangun sebelumnya,” lanjutnya.
Sebagai bentuk tanggung jawab, Dadik kemudian mendatangi langsung lokasi mural di Jalan Arif Rahman Hakim pada Kamis sekitar pukul 15.21 WIB. Ia datang bersama sejumlah orang dan melakukan pengecatan ulang terhadap tulisan “Malang Menyala Bersama” menggunakan cat biru.
Langkah tersebut menjadi bagian awal dari proses pengembalian mural ke bentuk sebelumnya.
“Saya bertanggung jawab atas hal ini,” kata Dadik kepada wartawan di lokasi.
Sebelumnya, melalui video permintaan maaf yang diunggah di media sosial, Dadik juga menyampaikan kesediaannya untuk mengambil pelajaran dari kejadian tersebut. Ia berharap persoalan yang muncul dapat diselesaikan melalui komunikasi dan kekeluargaan.
“Saya meminta kepada teman-teman semua atas ketidaktahuan saya. Saya akan belajar lagi,” ujarnya.
MCF selanjutnya menyatakan komitmen untuk mengembalikan tulisan “Malang The Glory Land” seperti kondisi sebelumnya. Panitia juga membuka kesempatan kepada pihak-pihak yang ingin terlibat dalam proses pengecatan dan pembuatan kembali mural tersebut.
“Kami sangat terbuka apabila kawan-kawan ingin ikut terlibat dalam proses pengecatan dan pembuatan kembali tulisan tersebut,” tulis panitia Festival Mbois 11.
Aremania Utas Soroti Pengubahan Mural
Sementara itu, Aremania Utas menyayangkan tindakan penimpaan mural yang dilakukan tanpa adanya pemberitahuan kepada pihak yang sebelumnya menginisiasi karya tersebut.
Humas Aremania Utas, Dedi Arisandi, mengatakan pihaknya turun langsung ke lokasi sebagai bentuk tanggung jawab moral sekaligus untuk menjaga agar persoalan tersebut tidak berkembang menjadi konflik.
“Kami sangat menyayangkan apa yang telah dilakukan oleh kawan-kawan panitia karena tidak ada klarifikasi atau pemberitahuan kepada yang menginisiasi tulisan mural tersebut,” ujar Dedi.
Menurutnya, mural tersebut memang bukan merupakan aset organisasi Aremania Utas. Namun, pihaknya tetap merasa perlu mengambil peran untuk membantu menengahi persoalan dan menjaga kondusivitas.
Dedi menegaskan, penyelesaian secara damai menjadi pilihan yang diharapkan semua pihak.
“Kami ingin diselesaikan secara damai ataupun kekeluargaan dengan semangat kekompakan, damai, dan kondusif,” katanya.
Aremania Utas juga meminta MCF menunjukkan itikad baik dengan menyampaikan permintaan maaf kepada keluarga almarhum Sam Nyek, yang dikenal sebagai penggagas mural “Malang The Glory Land”.
Dengan adanya permintaan maaf dan komitmen pengembalian mural tersebut, polemik diharapkan dapat diselesaikan secara kekeluargaan. Proses mengembalikan mural ikonik itu juga diharapkan menjadi momentum untuk menjaga karya seni, identitas, serta sejarah visual yang telah menjadi bagian dari ruang publik Kota Malang. (red)
