FMTD 2026 Sajikan Koleksi Antik Lintas Negara, Stand Galery Bangho Jadi Magnet Ribuan Pengunjung

Published:

KABARMBOIS.ID, MALANG – Festival Malang Tempo Doeloe (FMTD) 2026 kembali menghadirkan daya tarik yang mampu memikat ribuan pengunjung. Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah Stand Galery Bangho di kawasan Taman Krida Budaya Jawa Timur.

Beragam koleksi barang antik berusia lebih dari satu abad dari berbagai negara seperti Swiss, Jerman, hingga Belanda sukses menjadi magnet utama selama penyelenggaraan festival.

Sejak FMTD dibuka pada 30 Juni 2026, stand tersebut nyaris tak pernah sepi. Pengunjung dari berbagai daerah, mulai Malang Raya, Solo, Yogyakarta, Bandung hingga Jakarta, rela mengantre demi melihat dari dekat koleksi bersejarah yang masih berfungsi dengan baik.

Seluruh barang yang dipamerkan merupakan koleksi asli, bukan replika. Selain memiliki usia lebih dari 100 tahun, setiap benda juga memiliki latar sejarah yang jelas sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi para pecinta barang antik maupun masyarakat umum.

Di antara koleksi yang paling diminati ialah Gramaphon Thorens produksi Swiss tahun 1922 yang masih mampu menghasilkan suara jernih dari piringan hitam. Ada pula Gramaphon Tropical keluaran 1919 yang diproduksi khusus untuk kawasan tropis pada masa Hindia Belanda.

Tak kalah menarik, Radio Telefunken buatan Jerman tahun 1951 yang menjadi simbol kebangkitan teknologi pascaperang dunia, serta Radio Philips Guitar asal Belanda produksi 1952 dengan desain menyerupai gitar turut mencuri perhatian pengunjung. Berbagai radio tabung langka dari sejumlah negara dan koleksi akordeon antik juga melengkapi pameran tersebut.

Suasana klasik semakin terasa berkat konsep dekorasi ala bangunan kolonial yang diterapkan di dalam stand. Pencahayaan temaram bernuansa kuning membuat pengunjung seolah diajak kembali ke masa lampau. Banyak pengunjung memanfaatkan sudut-sudut ruangan untuk berfoto dengan mengenakan busana bergaya tempo dulu.

Selain menikmati koleksi antik, pengunjung juga dapat mencoba permainan dadu khas era tempo dulu yang turut disediakan sebagai bagian dari pengalaman bernostalgia.

Salah seorang pengunjung asal Bandung, Rani, mengaku rela mengantre sekitar 30 menit demi masuk ke dalam stand tersebut.”Rasanya seperti kembali ke era 1950-an. Dekornya sangat keren dan detailnya benar-benar terasa,” ujarnya.

Antusiasme terhadap Galery Bangho juga mendapat apresiasi dari Miss Cultural Junior Indonesia 2025 sekaligus Putri Kebudayaan Jawa Timur, Shinta Prameswari. Saat berkunjung ke stand tersebut, ia menilai keberadaan koleksi antik menjadi sarana penting untuk mengenalkan sejarah kepada generasi muda.

“Festival ini luar biasa karena mampu memperkenalkan budaya dan kehidupan masa lalu kepada generasi muda yang mulai melupakan warisan budayanya,” katanya.

Menurut Shinta, setiap benda antik menyimpan nilai sejarah yang dapat dijadikan pembelajaran bagi masyarakat.

“Melalui barang-barang peninggalan masa lalu, kita bisa belajar banyak tentang perjalanan sejarah dan budaya. Salam budaya, lestari budayaku di Nusantara,” pungkasnya.

Penyelenggaraan Festival Malang Tempo Doeloe 2026 yang berlangsung hingga 5 Juli ini pun dinilai berhasil menjembatani berbagai generasi. Kalangan orang tua memanfaatkan momentum tersebut untuk bernostalgia, sementara generasi muda antusias mengabadikan koleksi bersejarah sekaligus mengenal lebih dekat perjalanan budaya yang pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. (red)

Related articles

Recent articles