Bonus Demografi Hadapi Tantangan, Menpora Siapkan Indonesia Youth Summit dan Youth Camp

Published:

KABARMBOIS.ID, JAKARTA – Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir menilai bonus demografi yang dimiliki Indonesia belum sepenuhnya menjadi kekuatan pembangunan. Berbagai persoalan yang membelit generasi muda, mulai dari polarisasi di ruang digital hingga kesehatan mental, dinilai berpotensi melemahkan peran pemuda sebagai motor kemajuan bangsa.

Hal tersebut disampaikan Erick saat Rapat Kerja (Raker) bersama Komisi X DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (14/7/2026) lalu.

Menurut Erick, perkembangan ruang digital membawa tantangan baru karena banyak pemuda terpapar disinformasi yang memicu polarisasi dan berpotensi menimbulkan konflik sosial.

“Isu tentang ruang digital menjadi polemik tersendiri. Pemerintah sudah mulai membatasi penggunaan digital di sekolah bagi usia tertentu. Keputusan ini memang kontroversial, tetapi tepat. Negara seperti Australia saja sudah melakukan koreksi terhadap penggunaan digital di kalangan pemuda,” ujarnya.

Selain persoalan digital, Erick juga menyoroti meningkatnya persoalan kesehatan mental di kalangan generasi muda. Berdasarkan data yang dimilikinya, mayoritas pasien di klinik psikologi perkotaan berasal dari kelompok usia muda.

“Kalau ada sepuluh pasien di klinik psikologi, delapan di antaranya adalah pemuda. Ini kondisi yang sangat mengkhawatirkan,” katanya.

Tak hanya itu, Menpora juga menilai ketangguhan ideologi generasi muda mulai mengalami penurunan. Kondisi tersebut dinilai dapat memicu meningkatnya aksi kekerasan hingga kriminalitas yang dilakukan demi pengakuan dalam kelompok tertentu.

Foto: kemenpora.go.id. (Menpora Erick Thohir, saat melakukan Rapat Kerja (Raker) dengan Komisi X DPR RI yang berlangsung di ruang Rapat Komisi X DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (1472026) lalu.)

“Isu-isu ini sudah menjadi ancaman. Lemahnya ketangguhan ideologi ikut menggerus daya juang generasi muda. Bahkan aksi kekerasan di jalanan kini seolah menjadi tren untuk mendapat pengakuan dari komunitasnya,” jelas Erick.

Sebagai langkah penguatan karakter dan konsolidasi kepemudaan, Kemenpora menyiapkan program Indonesia Youth Summit. Forum tersebut akan mempertemukan pemuda, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan guna merumuskan kebijakan kepemudaan yang lebih terintegrasi.

Erick menjelaskan, sedikitnya tujuh kementerian memiliki keterkaitan dengan isu kepemudaan sehingga diperlukan sinergi lintas sektor. Konsep tersebut mengadopsi keberhasilan penyelenggaraan Indonesia Sport Summit yang sebelumnya mampu menghasilkan sejumlah kebijakan bersama.

Selain itu, Kemenpora juga akan menggelar Wirasena Youth Camp, program pengembangan kepemimpinan yang diikuti perwakilan pemuda dari 38 provinsi.

Kegiatan tersebut dirancang berdasarkan kurikulum yang disusun para pakar untuk membentuk karakter, kepemimpinan, serta meningkatkan kapasitas generasi muda melalui berbagai kegiatan pembelajaran dan pertukaran pengalaman.

Program tersebut dijadwalkan berlangsung pada Oktober 2026 sebagai bagian dari rangkaian persiapan menyongsong peringatan 100 tahun Sumpah Pemuda pada 2028 mendatang.

Menpora berharap seluruh program yang dijalankan mampu menghasilkan dampak nyata bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia, khususnya di kalangan generasi muda. (red)

Related articles

Recent articles