KABARMBOIS.ID, MALANG – Konservasi di pesisir Malang Selatan mendapat perhatian dari pegiat lingkungan asal Korea Selatan. Mereka menyambangi beberapa pantai untuk belajar model pendampingan akar rumput terkait konservasi.
Delegasi pegiat lingkungan Trash Center Korea Selatan didampingi langsung oleh lembaga konservasi dan pemberdayaan masyarakat independen, Sahabat Alam Indonesia (SALAM) yang berbasis di Malang.
Turut datang para akademisi Unitri, International Cultural Foundation (ICF), Nanjing University of Aeronautics and Astronautics (NUAA) dan Asian Cultural Landscape Association (ACLA).

Delegasi pegiat lingkungan Trash Center Korea Selatan saat berdialog dengan nelayan Pantai Sendang Biru, Kecamatan Sumawe Kabupaten Malang, Sabtu (1872026) lalu.
Pegiat konservasi sekaligus Pendiri Sahabat Alam Indonesia, Andik Syaifudin menjelaskan kedatangan para pihak tersebut pada Sabtu (18/7/2026) menjadi momentum memperkuat kerja sama internasional di bidang pelestarian lingkungan dan pengembangan masyarakat pesisir Malang Selatan.
“Keberhasilan konservasi tidak hanya bergantung pada perlindungan kawasan, tetapi juga pada penguatan masyarakat yang hidup di sekitarnya. Kami berbagi pengalaman pendampingan bersama Trash Center, ICF, serta akademisi,” urai Andik, Selasa (21/7/2026).
Delegasi berkunjung ke Pantai Sendangbiru, meninjau tanggul penahan abrasi yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat serta mengelilingi laut kawasan Cagar Alam Sempu. Rombongan juga mengunjungi Pantai Kondang Merak, Desa Sumberbening, Kecamatan Bantur.
Andik mengatakan, delegasi dan akademisi berdialog dengan masyarakat nelayan mengenai kondisi sosial dan ekonomi, tantangan pengelolaan sampah, hingga persoalan sampah laut yang semakin kompleks.

“Kami juga memperkenalkan berbagai program pendampingan yang mencakup perlindungan kawasan laut dan hutan lindung tersisa di Malang Selatan,” lanjutnya.
Delegasi juga melihat masyarakat dalam mengembangkan kuliner hasil laut sebagai alternatif mata pencaharian.
“Kunjungan delegasi Korea Selatan ini menjadi bukti bahwa pendekatan konservasi berbasis masyarakat yang dikembangkan di pesisir Malang Selatan mulai mendapat perhatian di tingkat internasional,” pungkas Andik. (nus)
