KABARMBOIS.ID, MALANG – Peringatan 79 Tahun Pertempuran Jalan Salak kembali menjadi momentum untuk menghidupkan semangat perjuangan Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP).
Rangkaian kegiatan berupa upacara, tabur bunga, hingga pertunjukan teatrikal reka ulang sejarah (reenactor) digelar di kawasan Taman Makam Pahlawan (TMP) TRIP Kota Malang, Jumat (31/7/2026) sore.
Ketua Umum Pusat Paguyuban MASTRIP Destry Damayanti menegaskan, bahwa nilai-nilai perjuangan para anggota TRIP harus terus diwariskan kepada generasi muda dan tidak berhenti pada keluarga pejuang maupun keturunannya.
“Semangat MASTRIP harus terus kami gelorakan, terutama kepada generasi muda. Kalau generasi kami masih bisa mendengar langsung kisah perjuangan dari orang tua yang menjadi pejuang, maka anak-anak dan cucu-cucu kami harus merasakan semangat itu melalui keteladanan yang kami berikan,” ujarnya usai kegiatan.
Menurut Destry, keluarga besar MASTRIP memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga sekaligus meneruskan nilai-nilai perjuangan para pelajar pejuang kemerdekaan. Hal itu sejalan dengan motto MASTRIP, yakni Perjuangan diteruskan sampai ke akhir zaman.
Ia menegaskan, peringatan tahunan tersebut bukan sekadar agenda seremonial, melainkan upaya membangun kesadaran sejarah di kalangan generasi penerus agar memahami besarnya pengorbanan para pelajar dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
“Kami ingin menanamkan kesadaran bahwa orang tua kami pernah menjadi bagian dari perjuangan Merah Putih. Nilai-nilai perjuangan itu harus tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” kata Destry.
Plt Gubernur Bank Indonesia itu juga mengungkapkan, pengenalan sejarah TRIP mulai dilakukan melalui dunia pendidikan. Bahkan, di sejumlah daerah materi mengenai MASTRIP telah dimasukkan ke dalam pembelajaran sejarah di sekolah.
“Beberapa daerah sudah memasukkan sejarah MASTRIP dalam materi pembelajaran. Kami berharap langkah serupa bisa diterapkan lebih luas sehingga semakin banyak pelajar mengenal sejarah perjuangan para pendahulu,” ujarnya.
Sementara itu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak generasi muda memaknai perjuangan TRIP sesuai tantangan yang dihadapi pada era sekarang.
Menurut Khofifah, jika para pelajar pada 1947 mempertahankan kemerdekaan dengan senjata sederhana, maka generasi saat ini memiliki medan perjuangan yang berbeda.
“Dulu mereka berjuang dengan senjata seadanya untuk mempertahankan kemerdekaan. Sekarang senjata kita adalah teknologi informasi, ilmu pengetahuan, kebersamaan, dan semangat gotong royong,” katanya.
Khofifah menambahkan, menjaga kemerdekaan bukan hanya menjadi tanggung jawab aparat atau pemerintah, tetapi juga seluruh warga negara sesuai profesi dan peran masing-masing.
“Kita semua memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga Kemerdekaan Republik Indonesia melalui bidang pengabdian dan profesi kita masing-masing,” pungkasnya. (red)


