Tahun Ke-5 Barikan Anak Nusantara di Kota Malang Tanamkan Toleransi dan Nasionalisme Sejak Dini

Published:

KABARMBOIS.ID, MALANG – Semangat toleransi dan nasionalisme kembali ditanamkan kepada anak-anak melalui kegiatan Barikan Anak Nusantara yang digelar Forum Komunikasi Antar-Umat Beragama (FKAUB) bersama sejumlah organisasi dan kelompok masyarakat di Alun-Alun Merdeka Kota Malang, Minggu (16/8/2026).

Memasuki penyelenggaraan tahun kelima sejak pertama kali digelar pada 2022, kegiatan tersebut melibatkan sekitar 350 anak dari jenjang PAUD, SD hingga SMP. Mereka berasal dari latar belakang agama dan kepercayaan yang berbeda.

Sekretaris Jenderal FKAUB Malang Raya Pendeta David Tobing mengatakan, Barikan Anak Nusantara tahun ini mengusung tema ‘Menyemai Toleransi, Menumbuhkan Jiwa Nasionalisme Sejak Dini’.

Menurut David, kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya menghadapi tantangan perkembangan media sosial yang dinilai turut memengaruhi cara anak-anak memperoleh informasi dan membentuk pandangan terhadap lingkungan sekitarnya.

“Tujuan dari acara ini supaya sejak usia dini anak-anak sekolah memiliki rasa nasionalisme. Tantangan dan pengaruh media sosial hari-hari ini membuat anak-anak sering kali semangat nasionalismenya luntur karena pengaruh konten yang mereka lihat di handphone masing-masing,” ujar David.

Barikan Anak Nusantara tidak hanya diisi dengan pertunjukan seni. Para peserta juga diajak menyanyikan lagu-lagu nasional melalui paduan suara bersama serta mengikuti rangkaian kegiatan yang menanamkan nilai kebersamaan.

Menariknya, kegiatan ini melibatkan anak-anak dari enam agama dan satu penghayat kepercayaan, yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Khonghucu, serta penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

David menyebut keberagaman tersebut sengaja dihadirkan untuk menggambarkan semangat kebinekaan yang menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

“Karena kami mau berbicara tentang Nusantara, tentang Indonesia. Artinya kalau bicara Indonesia atau Nusantara ada kebhinekaannya, ada perbedaannya, termasuk agama. Kami mengakomodir enam agama dan satu kepercayaan,” jelasnya.

Selain paduan suara, anak-anak juga mengikuti pembacaan Ikrar Anak Nusantara. Melalui ikrar tersebut, mereka diajak memperkuat kecintaan terhadap Pancasila dan Tanah Air sekaligus memahami perbedaan sebagai bagian dari persaudaraan.

Anak-anak Tidak Sekadar Menjadi Peserta

David menegaskan, salah satu hal yang membedakan kegiatan ini adalah keterlibatan anak-anak sebagai bagian aktif dari seluruh rangkaian acara.

Mereka tidak hanya ditempatkan sebagai peserta, tetapi juga diberi kesempatan mengambil peran, termasuk dalam prosesi doa dan kegiatan lainnya.

“Selama ini kegiatan agama sering didominasi tokoh agama. Jarang anak-anak bisa mengambil peranan, termasuk dalam doa. Di acara ini kita ubah, anak-anak yang mengambil peran. Jadi mereka bukan cuma objek, tetapi menjadi subjek dari kegiatan,” tuturnya.

Ia berharap Barikan Anak Nusantara dapat terus dilaksanakan setiap tahun sehingga menjadi ruang pembelajaran bagi generasi muda untuk mengenal keberagaman sekaligus membangun sikap saling menghormati sejak usia dini.

Wali Kota Malang Apresiasi Barikan Anak Nusantara

Sementara itu, Wali Kota Malang Wahyu Hidayat mengapresiasi konsistensi pelaksanaan Barikan Anak Nusantara yang telah memasuki tahun kelima.

Menurut Wahyu, kegiatan tersebut memiliki nilai budaya sekaligus menjadi sarana memperkuat persatuan masyarakat dari berbagai latar belakang agama.

“Kami atas nama Pemerintah Kota Malang mengapresiasi kegiatan ini, apalagi sudah lima kali. Barikan ini memang satu budaya yang dilaksanakan oleh masyarakat, terutama masyarakat Kota Malang, untuk memperingati dan sebagai bentuk rasa syukur atas kemerdekaan Republik Indonesia,” ujar Wahyu.

Ia menilai pelibatan berbagai umat beragama dalam kegiatan tersebut memberikan pesan penting mengenai pentingnya menjaga persatuan di tengah keberagaman.

Selain mempertahankan tradisi, Barikan Anak Nusantara juga menjadi momentum untuk mendoakan Indonesia agar senantiasa berada dalam kondisi aman, sejahtera dan menjadi kebanggaan masyarakat.

“Kami berharap ini menjadi satu langkah yang baik, terutama untuk menjaga tradisi, membentuk rasa syukur, dan juga mendoakan agar negara kita tetap aman, sejahtera, sehat, dan tentunya menjadi kebanggaan masyarakat Kota Malang,” katanya.

Wahyu menambahkan, Barikan Anak Nusantara memiliki karakteristik tersendiri karena telah berkembang menjadi tradisi yang identik dengan Kota Malang.

“Barikan Anak Nusantara ini kan baru di Kota Malang saja, di kota-kota lain enggak ada. Ini menjadi satu tradisi yang baik dan harus kita rawat,” pungkasnya.

Melalui penyelenggaraan tersebut, Barikan Anak Nusantara di Kota Malang tidak hanya menjadi perayaan menjelang HUT ke-81 Kemerdekaan RI, tetapi juga menjadi ruang edukasi bagi generasi muda untuk memahami toleransi, kebinekaan, nasionalisme, dan persaudaraan sejak dini. (red)

Related articles

Recent articles