KABARMBOIS.ID, JAKARTA — Operasi pencarian delapan orang yang masih hilang setelah KM Arupadatu 1 dilaporkan hilang kontak di perairan Selat Sunda, Banten, memasuki hari ketiga, Kamis (10/9/2026).
Polri bersama Basarnas dan unsur SAR gabungan kembali memperluas penyisiran, termasuk menggunakan KP Sanjaya-7017 dan KN SAR Tetuka di sekitar perairan Gunung Anak Krakatau.
Namun, hingga pencarian hari ketiga berlangsung, belum ditemukan tanda keberadaan delapan orang maupun KM Arupadatu 1. Operasi menghadapi tantangan berupa cuaca buruk dan kondisi perairan yang berubah-ubah.
Cuaca di wilayah pencarian dilaporkan berawan tebal hingga berkabut. Kecepatan angin sekitar 15 knot, sedangkan gelombang di sejumlah titik mencapai 2,5 hingga 4 meter. Luas wilayah pencarian dan perubahan arus juga menjadi kendala bagi tim SAR dalam melakukan penyisiran.
Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Pol Trunoyudo Wisnu Andiko mengatakan Polri terus mengoptimalkan personel dan sarana yang dimiliki untuk memperbesar peluang menemukan delapan orang yang masih dalam pencarian.
“Polri bersama seluruh unsur SAR terus mengoptimalkan pencarian dengan memperluas penyisiran. Pelaksanaannya tetap memperhatikan kondisi cuaca dan keselamatan personel,” ujar Trunoyudo dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (10/9/2026).
Sebanyak 59 personel Polri dilibatkan dalam operasi SAR gabungan. Operasi tersebut dipimpin Dirpolairud Polda Banten Kombes Pol Eko Hartanto yang turut berada di tengah laut menggunakan KP Sanjaya-7017 untuk memantau langsung proses pencarian.

Setelah menjalani briefing di atas kapal, unsur tersebut bergerak sekitar pukul 08.00 WIB bersama KN SAR Tetuka menuju wilayah perairan sekitar Gunung Anak Krakatau.
KP Sanjaya-7017 membawa 36 personel, terdiri dari 27 awak kapal, lima personel Ditpolairud Polda Banten, dua personel Basarnas, dan dua awak media. Sementara KN SAR Tetuka diperkuat tiga personel Ditpolairud Polda Banten.
Untuk membuat pencarian lebih terarah, Basarnas Banten membagi wilayah operasi menjadi enam sektor dengan luas total 2.483 nautical mile square (NM²).
KP Sanjaya-7017 melakukan penyisiran di sektor B yang terbagi menjadi delapan sub-sektor, yakni B1 hingga B8. Sementara KN SAR Tetuka bertugas di sektor C yang terdiri atas sub-sektor C1 hingga C8.
Pembagian tersebut dilakukan agar setiap unsur memiliki wilayah tanggung jawab yang jelas dan seluruh area pencarian dapat disisir secara sistematis.
“Penyisiran dilakukan berdasarkan sektor dan koordinat dengan memperhitungkan posisi terakhir kapal, arah angin, arus, gelombang, cuaca serta informasi terbaru di lapangan,” jelas Trunoyudo.
Petugas juga mengamati kemungkinan adanya korban, bagian kapal, perlengkapan keselamatan, maupun benda lain yang dapat menjadi petunjuk untuk menentukan keberadaan KM Arupadatu 1.
Operasi hari ketiga melibatkan lebih dari 280 personel gabungan. Kekuatan tersebut berasal dari Polri, Basarnas, TNI, Bakamla, KSOP, BPBD, unsur kewilayahan, potensi SAR, nelayan, masyarakat, media, serta keluarga korban.

Sejumlah sarana turut dioptimalkan, mulai dari kapal SAR, kapal patroli, RIB, dukungan udara, drone thermal, hingga peralatan medis dan komunikasi.
Meski penyisiran diperluas, kondisi cuaca dan laut membuat operasi harus dilakukan secara terukur. Petugas juga terus memantau perkembangan kondisi di sekitar Gunung Anak Krakatau sebelum menentukan pergerakan masing-masing unsur.
Trunoyudo menegaskan pencarian akan terus dilakukan dengan mengutamakan keselamatan tim di lapangan.
“Pencarian terus dilakukan secara maksimal dan terpadu. Keselamatan seluruh personel tetap menjadi prioritas,” tegasnya.
Di luar operasi SAR, Polri juga melakukan penyelidikan untuk mengetahui rangkaian kejadian sebelum KM Arupadatu 1 hilang kontak.
Subditgakkum Ditpolairud Polda Banten telah meminta keterangan sejumlah pihak, termasuk pemilik kapal, pekerja galangan, serta pihak yang berkaitan dengan proses docking dan perbaikan kapal.
Penyelidikan tersebut dilakukan bersamaan dengan operasi pencarian. Meski demikian, prioritas utama Polri saat ini adalah menemukan delapan orang yang masih dalam pencarian.
Polri juga mengimbau masyarakat, nelayan, dan pihak lain yang mengetahui informasi mengenai keberadaan KM Arupadatu 1 maupun delapan orang tersebut agar segera melaporkannya kepada Basarnas, Polri, atau petugas berwenang.
Masyarakat diminta tidak melakukan pencarian secara mandiri, terutama di wilayah operasi atau perairan sekitar Gunung Anak Krakatau tanpa koordinasi dengan tim SAR.
Hingga hari ketiga, pencarian delapan orang menjadi fokus operasi, sementara kondisi cuaca dan perairan menjadi tantangan utama bagi tim gabungan di lapangan. (Red)


