Frekuensi Erupsi Anak Krakatau Meningkat, Badan Geologi: Tak Otomatis Picu Letusan Lebih Besar

Published:

KABARMBOIS.ID, JAKARTA — Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan peningkatan frekuensi erupsi Gunung Anak Krakatau sejak 4 September 2026 tidak serta-merta menjadi indikator akan terjadi letusan dengan skala lebih besar.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria mengatakan peningkatan aktivitas ditandai erupsi yang berulang dan berlangsung terus-menerus.

Kondisi tersebut menunjukkan suplai magma dan gas di dalam tubuh gunung masih berlangsung, namun aktivitasnya masih sangat fluktuatif.

“Erupsi yang sering tidak otomatis berarti akan terjadi erupsi yang lebih besar,” kata Lana dalam konferensi pers daring, Minggu (6/9/2026).

Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau pada Senin (79) menyebar ke arah Barat. Foto PVMBGHandout via REUTERS
Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau pada Senin (79) menyebar ke arah Barat. Foto PVMBGHandout via REUTERS

Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengevaluasi seluruh data pemantauan untuk mengetahui perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dan memastikan langkah mitigasi dapat dilakukan secara tepat.

Lana menyebut potensi bahaya yang perlu diwaspadai saat ini meliputi lontaran material pijar dan batuan vulkanik, gas vulkanik berkonsentrasi tinggi, serta kemungkinan aliran material erupsi di sekitar kawah dan tubuh gunung.

“Lontaran material dapat membahayakan siapa pun yang masuk zona terlarang,” ujarnya.
Abu Vulkanik Tersebar di Lima Provinsi

Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda juga menyebabkan abu vulkanik terpantau menyebar di atmosfer menuju Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, Lampung, dan Bengkulu.

Menurut Lana, informasi sebaran tersebut dihimpun dari data PVMBG melalui MAGMA Indonesia, VAAC Darwin, serta analisis citra satelit Himawari-9 oleh BMKG.

PVMBG mencatat letusan sejak Jumat (49) malam dengan durasi gempa letusan mencapai 21.600 detik dan amplitudo maksimum 70 milimeter (Foto Istimewa)
PVMBG mencatat letusan sejak Jumat (49) malam dengan durasi gempa letusan mencapai 21.600 detik dan amplitudo maksimum 70 milimeter (Foto Istimewa)

Arah dan jangkauan abu vulkanik dapat berubah mengikuti arah serta kecepatan angin pada berbagai ketinggian.

Tinggi kolom erupsi, durasi erupsi, dan jumlah material yang dikeluarkan turut menentukan luas sebarannya.

Badan Geologi memastikan pemantauan aktivitas Gunung Anak Krakatau terus dilakukan secara berkelanjutan.

Evaluasi terhadap seluruh parameter vulkanik menjadi dasar dalam menentukan langkah mitigasi dan memberikan informasi kepada masyarakat.

Peningkatan frekuensi erupsi saat ini tetap perlu diwaspadai, tetapi belum dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan akan terjadi letusan yang lebih besar. (red)

Related articles

Recent articles